Tuhan, Izinkan Aku Mencuri
"Ibu, aku rindu sama Ibu. Kapan Ibu menjemputku?" Perlahan aku meraih nisan bertuliskan nama ibuku, lalu mengusapnya dengan lembut. Tak terasa bulir-bulir bening jatuh tak tertahan membasahi pipi. Hari ini, genap 5 tahun ibu meninggalkan kami, aku dak kedua adikku. Bencana likuefaksi tanpa ampun merenggut orang-orang tercinta, menyisakan beribu duri di dada yang masih terasa sangat perih. Bukan aku tak menerima takdir ini, Tuhan. Tapi hidup tanpa mereka terasa begitu sangat berat.
Teringat dengan jelas kala itu bumi terbelah dan menelan badan ibu. Sekuat tenaga aku berusaha mengeluarkan ibu dari himpitan tanah, tapi tarikan tangan kecilku tak mampu membuat tubuh ibu keluar. Aku hanya bisa menggenggam dan menangis.
"Larilah, Nak. Tinggalkan Ibu. Hidup Ibu tidak akan lama lagi. Jaga kedua adikmu dan cari Ayah," seru ibu kala itu ketika bumi berguncang kembali. Ia mendorongku agar menjauh lari menyelamatkan diri. Akupun menurut. Dengan cepat aku meraih tangan kedua adikku menjauh dari Ibu. Lalu berlari dan berlari menghindari lumpur yang mengejar. Dadaku terasa begitu sesak. Air mata tumpah ruah tak terhitung lagi banyaknya. Aku kehilangan ibu selama satu Minggu, dan menemukannya lagi setelah alat berat menggali tanah di mana ibu berada terakhir kali kami bertemu.
Kini ibu sudah tenang di surga. Tinggallah kami bertiga di hunian sementara. Ayah pun hingga kini tak ditemukan keberadaannya. Sepanjang waktu aku selalu mencari dan menunggunya datang, tapi Tuhan tak kunjung mempertemukan. Akhirnya semua kupasrahkan. Doaku, jika ayah sudah berpulang, semoga disatukan bersama ibu di surga. Jika ayah masih hidup, semoga kami lekas dipertemukan. Di depan gundukan tanah makam ibu, aku menengadahkan kedua tangan, memohon pada Tuhan melalui doa-doa yang kupanjatkan.
"Ibu, tenanglah di sana. Aku pulang dulu ya, sudah sore. Ana dan Adi pasti sudah menungguku di rumah. Sayang sama Ibu ..." Dengan perasaan hampa yang sangat-sangat, kurengkuh nisan yang mulai lapuk itu, lalu menciumnya, membayangkan ibulah yang memelukku dengan hangat.
Adi, adik pertamaku sudah duduk di kelas 5 SD. Ia sudah pandai menjaga Ana yang masih 7 tahun. Sedangkan aku sendiri, sudah kelas 2 SMP. Sepulang sekolah, aku meninggalkan keduanya di rumah, sedangkan aku berkeliling kampung menjual gorengan. Tak seberapa pendapatan kami, tapi itu sudah cukup buat makan. Baju, beras dan kebutuhan sekolah kadang juga kami dapatkan dari dermawan.
Dulu, ada yang berniat mengadopsi kami, tapi harus terpisah-pisah. Olehnya aku menolak, dan nekat tinggal bertiga di hunian sementara yang diberikan oleh pemerintah. Meski jaraknya yang berjauhan dari tetangga, tapi ini lebih baik. Pun untuk menjaga amanah dari ibu agar kau merawat Adi dan Ana. Rasa cintaku pada Ibu yang menjadi kekuatan untuk mengahadapi kehidupan dunia yang teramat keras ini.
"Kakak dari mana saja, Ana sakit, panas sekali badannya, kak." Adi menyongsong kedatanganku dengan wajah yang sangat panik. Aku segera berlari ke dalam rumah. Benar saja, tubuh anak perempuan kecil itu tengah berbaring lemas di atas dipan kayu yang hanya beralaskan tikar tipis. Kutempelkan telapak tanganku di atas dahinya. Panas.
"Tadi ana sudah makan?"
"Dia gak mau makan, kak. Muntah terus dari tadi,"
"Ambilkan minum,"
Adi bergegas mengambil segelas air panci, lalu memberikannya padaku.
"Dek, bangun dan minumlah," aku menopang tubuh Ana, dan menyodorkan gelas ke bibirnya. Belum sempat meneguk, aku merasakan tubuhnya terguncang.
Hueeek!
Ana muntah lagi. Aku bingung mesti bagaimana. Akhirnya aku memutuskan untuk menggendongnya ke Puskesmas di desa. Adi membuntutiku dari belakang. Tak kuperdulikan peluh yang membanjir. Kuabaikan perut laparku sedari pagi. Aku tak mau kehilangan Ana. Dia harus selamat.
"Dokter dokter dokter, tolong adik saya," aku berteriak sesampainya di puskesmas. Salah seorang lelaki berbaju putih menuntunku agar membaringkan tubuh Ana di atas matras. Lalu lelaki itu memeriksa Ana dan menanyakan apa yang terjadi padanya. Aku dan Adi menjawab dengan detail apa yang terjadi tadi.
"Sepertinya adikmu ini butuh di rawat inap, karena kondisinya yang sangat lemah. Dia banyak kehilangan cairan. Adek punya BPJS?" Aku dan Adi saling menoleh dan menggeleng. Kamu tak tahu bagaimana bentuknya BPJS karena selama ini jika kami sakit, cukup meminum obat warung sudah langsung sembuh. Tapi kali ini Ana kondisinya sangat menakutkan, aku tak berani memberinya obat warung.
"Ya sudah, berarti adek hari membayar umum, ya"
"Iya dok, nanti saya berusaha nyari."
"Baik, sementara ini adikmu akan diberi infus dan akan disuntikkan obat muntahnya dari selang infus,"
"Iya, Dok. Terimakasih banyak,"
Lelaki yang kusebut dokter itu memanggil dua perawat dan menyuruh mereka memasangkan infus di lengan kiri Ana. Gadis kecil itu hanya bisa mengaduh kesakitan ketika jarum suntik menembus kulitnya. Syukurlah, Ana sudah tertangani. Hatiku sudah tak merasa cemas lagi. Hanya saja, aku harus mendapatkan uang dari mana untuk membayar perawatan Ana?
Meminjam dari tetangga? Gak mungkin. Tetanggaku juga sama susahnya dengan kami. Menjual barang? Gak mungkin. Tak ada satupun barang berharga yang aku punyai. Aku bingung, benar-benar bingung.
Setelah menitipkan Ana pada Adi, aku melangkah keluar menuju mesjid puskesmas. Mesjid itu sepi tak terawat. Setelah berwudhu, aku masuk dan menunaikan tiga rakaat sendirian.
Selesai sholat, aku mengeluarkan Kantong hitam dari balik saku bajuku. Berhitung pendapatan berjualan tadi. Lembar demi lembar uang ribuan, lumayan untuk penambahan penghasilan, meski tak seberapa.
"Alhamdulillah dapat empat puluh lima ribu rupiah, tapi apa ini cukup membayar perawatan Ana?" Tak yakin, akupun memasukkan lembaran-lembaran uang tadi ke dalam saku celana.
"Apakah aku harus mencuri?" Gumamku dalam hati.
"Ya Tuhan, maafkan jika aku harus mencuri." Aku tak berniat untuk meragukan kekuasaanMu, tapi saat ini sangat membutuhkan uang, Tuhan."
Aku merapatkan dahiku di atas lantai, memohon kebaikan dan kelapangan dari Tuhan sang penguasa alam. Sekaligus memohon ampunan karena aku berniat mencuri.
"Tuhan, izinkan aku mencuri. Kali ini, saja"
Bersambung ....

Komentar
Posting Komentar