AKSI NYATA BUDAYA POSITIF SEKOLAH

Apa itu Budaya Positif Sekolah?

Karakter manusia terbentuk berawal dari kebiasaan hidup yang dijalani dalam setiap harinya. kebiasaan ini akan tertanam dan terus melekat hingga sepanjang hidup, jika tidak ada lingkungan yang merubah. itulah mengapa dalam pembelajaran di sekolah tidak terlepas dari bagaimana menanamkan budaya positif, agar murid nantinya dapat memiliki karakter positif, sehingga kelak bisa menjadi generasi yang unggul di semua bidang. 

Budaya positif di sekolah adalah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak kepada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis penuh hormat dan bertanggung jawab. Contoh: budaya senyum, salam, sapa dan lain-lain.


Apa Peran Guru dalam Menanamkan Budaya Positif?

Dalam mewujudkan budaya positif ini guru memegang peranan sangat penting, di mana guru perlu memahami posisi apa yang tepat untuk dapat mewujudkan budaya positif baik di lingkup kelas maupun sekolah. Selain itu, pemahaman akan disiplin positif juga diperlukan karena sebagai pamong, guru diharapkan dapat menuntun murid untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Adapun kriteria panduan dalam membangun hubungan dengan murid antara lain:

1. Bersikap baik dan tegas di saat yang bersamaan

2. Membantu murid merasa dihargai dan memiliki keterikatan antara dirinya dengan guru dan teman di kelasnya, sehingga ia merasa menjadi bagian dari kelas.

3. Memiliki komitmen untuk mempertimbangkan efektivitas dan dampak jangka panjang bagi proses belajar murid dari tindakan yang diambil misalnya pemberian hukuman bersifat dapat menyelesaikan masalah dalam jangka pendek, tetapi berpotensi memberikan dampak negatif dalam proses belajar pada anak yang bersifat jangka panjang.Pendidik harus fokus pada perubahan dan peningkatan perilaku yang menetap bukan hanya pada perilaku yang berhasil ditampakkan pada saat itu.

4. Positif berarti membekali murid dengan keterampilan sosial dan mendukung pertumbuhan karakter yang baik seperti rasa hormat, peduli, komunikasi yang efektif, pemecahan masalah, tanggung jawab, kontribusi, dan kerjasama.

5. Mengajak murid untuk menemukan bagaimana mereka mampu dan dapat menggunakan kekuatan diri mereka dengan cara yang membangun.


Kesepakatan Kelas

Salah satu contoh strategi penerapan budaya positif di sekolah adalah dengan menerapkan kesepakatan kelas. lewat kesepakatan kelas, murid-murid  sekaligus belajar tentang nilai-nilai demokrasi serta pentingnya bertanggung jawab terhadap kesepakatan yang telah mereka buat sendiri. kesepakatan kelas ini lebih mengedepankan peran aktif siswa sebagai subjek belajar, sehingga setiap pendapat siswa perlu dihargai.

Setiap guru pastinya mempunyai tantangan masing-masing dalam menghadapi murid-muridnya karena adanya keunikan individu pada setiap kelas. Pernahkan kita merasa bahwa tantangan untuk mengelola sebuah kelas seperti tiada akhir? Selain mengurus banyak hal dalam sebuah kelas mulai dari membuat rencana pengajaran, membawakan kegiatan, hingga mengevaluasi kelas, kita juga harus bisa mengatur perilaku murid di dalam kelas. Sebagai seorang guru pastinya kita ingin memberikan yang terbaik kepada murid-murid kita.

Saya  percaya bahwa hal tersebut dapat dilakukan dengan melaksanakan pembelajaran yang menggunakan aturan, prosedur, dan rutinitas untuk meyakinkan bahwa semua murid bisa terlibat aktif dalam setiap pembelajaran yang mereka lakukan. Sebuah prosedur ataupun rutinitas dalam kelas pastinya berdasarkan pada aturan yang telah dibuat. Bagaimanakah kita membuat aturan dalam kelas? Saya membuatnya dengan menggunakan Kesepakatan Bersama atau Kesepakatan Kelas.

Kesepakatan Kelas adalah kesepakatan yang dibuat bersama-sama oleh semua anggota kelas. Kesepakatan ini adalah hasil diskusi di dalam kelas yang biasanya dilakukan di awal tahun atau di awal kegiatan. Bagaimana cara membuat kesepakatan bersama? Biasanya saya memulainya dengan menentukan objektif atau tujuan belajar individu. Pada setiap awal tahun ajaran biasanya setiap murid ditanyakan apa objektif yang akan mereka capai di tahun ini. Objektif juga bisa berhubungan dengan sikap atau kemampuan, seperti “Bisa aktif saat berdiskusi” atau “Bisa bekerjasama dan berkolaborasi dengan teman sekelas”. Guru pun bisa membantu mengarahkan murid dalam mengeluarkan ide-ide untuk objektifnya dengan mengeluarkan pertanyaan pancingan seperti, “Menurut kamu apakah di kelas tahun lalu kamu sudah melakukan usaha yang terbaik?” atau, “Kira-kira apa yang ingin kamu perbaiki di tahun ajaran ini?”. Objektif itu kemudian ditulis ataupun digambar dan ditempel di kelas, sehingga murid bisa melihatnya setiap waktu.

Setelah objektif individu tersebut dibuat, kemudian kita bisa berdiskusi lebih lanjut untuk menemukan tujuan bersama dan atau hal yang dibutuhkan untuk dapat mencapai tujuan tersebut, seperti “Bisa bekerja sama dalam kelompok” dan “Saling menghargai antar teman”. Kemudian kesepakatan kelas tersebut juga bisa dituliskan dalam bentuk poster dan ditempel di ruangan kelas. Agar lebih mantap, sebelum ditempel, kesepakatan tertulis tersebut bisa ditandatangani terlebih dahulu oleh semua anggota kelas.

Dalam kenyataan prosesnya, selalu tidak mudah untuk bisa menerapkan kesepakatan ini di sepanjang tahun. Namun ada saja waktu di mana kelas membutuhkan intervensi yang kuat dari saya, seperti saat sebuah kesepakatan dilanggar. Pada saat seperti itu saya mengajak murid tersebut untuk berbicara empat mata dan menggunakan teknik refleksi untuk mengingatkan kembali tentang objektif yang pernah mereka buat dengan mengajukan pertanyaan seperti, “Kira-kira apakah tindakanmu tadi akan mendukung kamu meraih objektifmu?”. Bisa juga dengan menanyakan kepada murid apakah tindakan mereka sesuai dengan kesepakatan bersama seperti, “Apakah tindakanmu tadi menunjukkan kesepakatan kelas kita yaitu menghargai orang jika sedang berbicara?” “Kira-kira itu membuat nyaman temanmu tidak?” “Apa yang kamu rasakan apabila kamu tidak dihargai?” dan sebagainya.

Kita tahu, semua aturan dibuat untuk menjaga perilaku positif dan konsistensi dalam implementasinya sangat penting untuk mengelola kelas secara efektif. Agar kesepakatan bersama dapat diimplementasikan secara efektif saya juga biasanya menjadi role model di dalam kelas. Saya juga suka berbagi cerita tentang perasaan saya saat kesepakatan bersama dilanggar dan juga mengapresiasi murid yang sudah bisa menepati kesepakatan tersebut dengan pujian yang positif seperti “Terima kasih ya sudah menghargai pendapat teman, karena kamu bisa melakukan itu semua orang di kelompok kamu bisa memberikan kontribusinya.” dan lain-lainnya.

Tidak ada hal yang instan yang bisa terjadi. Semua proses membutuhkan waktu, kesabaran, dan kejernihan dalam berpikir. Di dalam aktivitas kelas tidak jarang murid melupakan tentang tujuan mereka saat pembelajaran. Sebagai guru, terkadang saya pun melupakan bahwa murid juga memiliki pencapaian tertentu. Terkadang di dalam kelas saya dan murid saya lupa bahwa peraturan di dalam kelas membantu semua orang untuk belajar. Jika hal ini terjadi saya memberikan waktu kepada kelas untuk berdiskusi dan berefleksi meski di tengah berlangsungnya pengajaran. Hal ini penting untuk memberi kesempatan memfokuskan kembali tujuan kesepakatan Bersama.


Meski tidak mudah, melalui penerapan kesepakatan kelas ini murid-murid saya perlahan tapi pasti menyadari bahwa setiap “aturan” dibuat untuk kebaikan bersama. Bahwa menaati kesepakatan untuk menjadi diri yang lebih baik membutuhkan waktu yang panjang sehingga memerlukan konsistensi. Dan tentunya dampak yang paling baik adalah, selain setiap murid dapat mulai berperilaku positif dengan penuh kesadaran, mereka juga menyadari bahwa peran guru di dalam kelas bukan sebagai pengawas aturan yang menakutkan, tapi sebagai pengayom yang siap mengingatkan mereka untuk selalu konsisten mencapai tujuan untuk menjadi diri yang lebih baik di setiap waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

fenomena garis dan sutut