GADIS TITIPAN (Oleh : Suryani Tajuddin)


"Apa? satu kos sama dia? Mama gak salah?" Hanif memastikan sekali lagi perintah sang mama agar ia tinggal bersama Yumna.
"Iya, bener. Bu Endang menitipkan Yumna sama kamu, biar dijaga. Kasian, di kota ini dia gak punya keluarga selain kita," jawab Bu Kinan meyakinkan.
"Tapi, Ma ... Kita kan juga bukan keluarga dekat. Lagian aku cowok, dia cewek. Nanti gak cocok," sahut Hanif yang masih ragu. Suaranya pelan agar tak terdengar oleh gadis berkerudung pink yang masih duduk di ruang tamu.
"Siapa bilang harus cocok? Kamu hanya harus tinggal bersama untuk menjaga Yumna. Ibu gak mau tau. Ibu dah janji sama Bu Endang," jelasnya lagi.
"Tapi, Ma ..."
"Gak ada tapi! Mulai hari ini, Yumna akan tinggal satu kontrakan sama kamu!"
Hanif hanya menunduk, pasrah pada titah sang Mama. Meski hatinya dongkol, tapi ia terpaksa harus menerima tanggung jawab menjaga anak orang. Hal yang tak pernah dibayangkan oleh Hanif sebelumnya, mengingat selama ini ia terbiasa hidup sendiri. Benar, Hanif adalah anak semata wayang. Ia disewakan rumah kontrakan yang lengkap dengan fasilitas yang ada di dalamnya. Selama dua tahun kuliah, ia hidup sendiri. Sesekali saja ayah dan ibunya menjenguk karena berbeda kota.
Apa yang akan dilakukannya setelah ada gadis itu di sini? Tentu ia tak akan bebas seperti dulu. Membawa teman-teman kampusnya untuk berpesta di rumah itu.
"Ingat Hanif, jaga Yumna baik-baik. Jangan jail atau membuatnya menangis,"
"Iya, Mama bawel. Hanif janji!"
"Nah gitu dong, gini kan jadi enak sama keluarga Yumna," ucap sang Mama sambil tersenyum memeluk anak tercintanya.
Walaupun dalam hati Hanif menolak, namun ia hanya bisa pasrah. Entah apa yang ada dipikiran ayah ibunya, apakah mereka sedang menguji tanggung jawab anaknya? Atau mereka sengaja menguji kesabaran Hanif? Benar-benar tak masuk akal. Karena selama ini kehidupan Hanif baik-baik saja tanpa gangguan.
***
"Mahasiswa kok kukunya item-item?" Hanif memukulkan penggaris ke ujung jari Yumna yang tengah menggenggam apel. Sontak buah kesukaan Yumna itu jatuh ke lantai. Hanif buru-buru memungutnya lalu menyembunyikan di balik punggungnya.
"Eh, punyaku itu!" Tangannya berusaha meraih apel dari Hanif. Namun tentu saja Ia kalah tinggi, sehingga sulit baginya meraih apel itu.
"Sana, cuci tangan dulu. Dasar gadis jorok!" Umpat Hanif.
"Wee!" Yumna membalas dengan menjulurkan lidahnya. Lalu, ia berlari ke arah wastafel untuk mencuci tangannya.
"Udah bersih nih, sinih balikin!" pinta Yumna setelah berada di dekat Hanif lagi.
"Tapi bagi ya," Hanif menggigit tepi apel dengan cepat, lalu menyerahkan sisanya pada Yumna.
"Astaga, aku gak mau makan sisa bibirmu. Dasar cowok jorok!" Yumna mengumpat.
"Udah, makan aja. Aku gak rabies kok, "
"Ogah! takutnya lu pelet ntar,"
"Pelet siapa? Elu? Woy, kagak ada istilah gitu. Mungkin lu kali yang naksir gue?"
"Jan sembarang ya, atau..."
"Atau apa?" Hanif mendekatkan kepalanya ke wajah Yumna membuat gadis itu kelabakan.


Bersambung ....



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

fenomena garis dan sutut